Suara Kita

Ijazah vs Sertifikat

Mana yang lebih penting jika ingin sukses berkarier di dunia TI? Ijasah atau sertifikat?

Hampir dalam semua seminar antara pelaku industri dan akademisi yang membahas masalah “link and match”, dibicarakan isu mengenai anggapan bahwa, di dunia industri, nilai “sertifikat” tertentu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan “ijazah” perguruan tinggi.

Alasan yang kerap dikemukakan antara lain adalah :

  1. Ijazah dengan transkrip yang menyertainnya sangatlah bersifat umum, dalam arti kata industri tidak benar-benar tahu kompetensi dan keahlian khusus dari si lulusan PT – karena informasi yang tertera hanyalah perihal nama mata kuliah yang diambil dengan nilainya. Sementara  informasi yang ditemukan di sertifikat sangat jelas karena mengikuti standar nasional / internasional.
  2. Perbedaan kelas dan kualitas antar PT membuat ijazah tidak dapat dibandingkan secara “apple to apple” antara satu dengan lainnya, sehingga seringkali pihak industri menggunakan asumsi tertentu terhadap nama dan citra perguruan tinggi yang bersangkutan. Sedangkan dalam sertifikat, diberlakukan standar yang tidak membedakan latar belakang pendidikan atau lingkungan aktifitas, karena hanya fokus pada penguasaan terhadap bidang tertentu.
  3. Bidang penguasaan seperti yang dicantumkan di ijazah / transkrip bersifat terlalu umum, tidak memiliki relevansi langsung dengan “bahasa umum” yang kerap dipakai di industri. Bahasa yang terlalu akademik tersebut perlu dipetakan lebih dulu menjadi terminologi yang biasa dipakai dan dimengerti oleh industri terkait. Di lain pihak, sertifikat secara langsung menggunakan terminologi yang sehari-hari digunakan oleh industri sehingga mudah dimengerti oleh para praktisi bisnis.

Tentu saja, ketiga alasan ini dibantah oleh kaum akademisi yang mengatakan, sertifikasi hanya menjamin yang bersangkutan mengetahui kulit / permukaan dari suatu ilmu belaka – tidak secara utuh dan mahir memahami filosofi dan penggunaannya secara tepat.

 

Saling Melengkapi

Sebenarnya tidak perlu buang waktu untuk mempertentangkan kedua hal tersebut karena pada dasarnya mereka saling melengkapi. Coba kita bandingkan seperti ini.

  • Ijazah adalah sebuah bentuk pengakuan telah dipenuhinya standar pengetahuan dan kompetisi melalui proses diikuti dan diselesaikannya sejumlah mata kuliah bedasarkan program kurikulum tertentu. Karena Indonesia menganut system KBK (Kurikulum Berbasis Kurikulum), maka tujuan / filosofi yang digunakan adalah membekali peserta didik dengan “kompetensi” tertentu yang bersifat jangka panjang. Pendekatan prinsip dan generic diterapkan dalam metodologi serta konten pengajaran agar ilmu yang dipelajari dapat diimplementasikan dalam berbagai situasi kehidupan.
  • Sertifikat lebih bersifat jangka pendek karena mengacu pada teknologi yang menjadi tren saat itu. Tak heran jika sertifikasi tertentu biasanya dilengkapi dengan masa berlaku dan harus memperbaharui setelah periode tertentu. Karena sifatnya yang mengikuti tren, sertifikasi mengacu pada keterampilan yang bersifat “keahlian” alias mampu menguasai dan menggunakan teknologi tertentu. Dikatakan “tertentu” karena berbasis pada industry yang menciptakannya, sehingga tidak bisa dihindari jika banyak ditemukan sertifikasi yang mengacu pada standar yang dikembangkan oleh asosiasi atau forum tertentu, atau pada vendor atau komunitas penemu tertentu. Contoh PMP (project Management Professional) yang dikeluarkan oleh Project Management Institute, atau CISA (Certified Information System 2 Administrator) yang dikeluarkan oleh ISACA, Cisco Certified Network yang dikeluarkan oleh Cisco atu MCSE (Microsoft Certified System Enginners).

Singkat kata, kombinasi antara kemampuan memahami sesuatu secara generic versus detail, holistic versus focus, jangka panjang versus jangka pendek, konsep versus terapan, teori versus praktek, prinsip versus praktis, dan umum versus khusus merupakan karakteristik saling melengkapi antara Ijazah dan Sertifikat.

509 Comments